Sabtu, 03 Desember 2016 - 16:53:59 WIB
Meningkatkan Budaya Baca dengan Gerakan Sedekah Buku dan Gerakan Perpustakaan Kejujuran
Diposting oleh : Dra. Lia Evilia Soekardi, S.H., M.M.Pd.
Kategori: Artikel Pendidikan - Dibaca: 2026 kali

Meningkatkan Budaya Baca dengan Gerakan Sedekah Buku dan Gerakan Perpustakaan Kejujuran

Oleh Lia Evilia Soekardi

Saat ini pemerintah sedang membudayakan kegiatan membaca dengan nama Gerakan Literasi Sekolah ( GLS ) dengan tujuan menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang di wujudkan dalam GLS agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Kegiatan GLS dilakukan di liingkungan sekolah dengan melibatkan berbagai pihak selain pihak sekolah itu sendiri juga melibatkan komite sekolah, orang tua / wali murid, dunia usaha dan industri, perguruan tinggi, alumni dan LSM / komunitas pegiat literasi

Kesadaran  membaca jadi budaya  diperlukan persiapan yang matang salah satunya adalah penyediaan jenis buku – buku yang bisa dibaca. Menyiapkan buku – buku yang bersifat edukatif dan inovatif. Penyediaan buku – buku bacaan bermutu tidak bisa mendadak tersedia.

Dalam Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Menengah Atas diuraikan tentang tahapan GLS antara lain :

  1. Tahap ke 1 : Pembiasaan, kegiatannya antara lain :
    1. Kegiatan 15 menit membaca
    2. Sudut baca di kelas,area baca yang nyaman dengan koleksi buku non pelajaran
    3. Poster – poster kampanye  pembiasaan membaca, hidup sehat, sehat dan indah
    4. Sekolah berupaya melibatkan orang tua, alumni,dan elemen masyarakat untuk mengembangkan kegiatan literasi sekolah
    5. Tahap ke 2 : Pengembangan, kegiatannya antara lain :
      1. Kegiatan 15 menit membaca
      2.  Tanggapan lisan maupun tulisan
      3. Memiliki portfolio kumpulan jurnal  tanggapan membaca
      4.  Jurnal dipajang di kelas / koridor sekolah
      5. Area membaca buku non pelajaran
      6. Penghargaan pencapaian peserta didik secara berkala
      7. Ada poster – poster kampanye membaca
      8. Wisata” ke perpustakaan
      9. Kegiatan hari – hari tertentu yang bertemakan literasi ( misal bulan bahasa)
      10. Tahap ke 3 : Pembelajaran
        1. Kegiatan 15 menit membaca sudah membudaya
        2. Kegiatan membaca buku non pelajaran yang terkait dengan buku pelajaran ( ada tagihan akademik )
        3. Jurnal tanggapan dari hasil membaca dipajang di kelas / koridor kelas
        4. Penghargaan berdasarkan tagihan
        5. Unjuk karya dalam hari – hari perayaan
        6. Sekolah berjejaring dengan pihak eksternal untuk pengembangan literasi sekolah dan pengembangan profesional warga sekolah tentang literasi

Oleh karena itu Gerakan sedekah Buku menjadi pembuka jalan untuk mempercepat budaya membaca terwujud. Pendidikan moral pun sudah terjadi, dengan melakukan sedekah berarti dibalik aktivitasnya muncul rasa kebersamaan, rasa tanggung jawab, rasa saling memiliki, rasa tenggang rasa, rasa berbagi.

Gerakan Perpustakaan Kejujuran adalah suatu gerakan mewujudkan tempat yang menyediakan buku - buku yang bisa bebas dibaca, tidak terikat dengan peraturan administratif, yang mengawasi adalah diri sendiri setelah membaca simpan kembali ke tempatnya dan disinilah moral teruji apakah akan mengembalikan ke tempat buku, apakah buku dalam kondisi baik setelah dibaca. 

Meningkatkan budaya baca tidak semudah membalikkan tangan. Perlu waktu dan proses yang berkelanjutan hingga akan terpatri dalam hati. Gerakan Sedekah Buku dan perpustakaan merupakan dua gerakan yang bisa memfasilitasi terwujudnya peningkatan budaya baca.

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk mewujudkannya :

  1. Adanya informasi berbentuk edaran ( poster, spanduk dan sebagainya) berisi tentang ajakan membaca buku agar ada kesadaran setiap individu tentang pentingnya membaca buku
  2. Siapapun bisa mensedekahkan buku – buku cerita yang sifatnya edukatif dan inspiratif
  3. Siapkan Perpustakaan kejujuran di sudut - sudut yang strategis misal di lobby atau ruang tamu sekolah, taman – taman sekolah, di koridor kelas
  4. Keterlibatan sejumlah penerbit untuk mensedekahkan buku – buku
  5.  Adanya Tim pemantau  untuk membantu mensortir buku – buku mana buku yang layak dibaca dan mana buku yang tidak layak dibaca.
  6. Keterlibatan pihak sekolah terutama para siswa dilibatkan menjadi pioneer – pioneer literasi
  7. Keterlibatan para stake holder untuk terlibat didalamnya baik langsung maupun tidak langsung

Nampaknya menjadikan Sekolah yang berbudaya baca akan segera terlaksana jika setiap pihak dengan niat yang sama, atas dasar kebersamaan berusaha untuk mewujudkannya.




Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)